Minggu, 18 September 2011

RUMAH CICILAN


“ Perlu pola piker yang benar, realistis, dan seimbang dalam menentukan impian yang akan kita raih. Buat apa memaksakan sesuatu yang tak perlu dipaksa jika hanya penyesalan yang akan kita terima di kemudian hari?”
 Alkisah ada seorang pemuda dari keluarga miskin yang rumah tinggalnya sering berpindah-pindah, karena hanya bisa menyewa. Dalam hidup keinginan terbesarnya adalah memiliki rumah sendiri. Karena itu saat menikah, dia memaksa diri untuk membeli rumah dengan cicilan selama 20 tahun. Akibatnya, dengan gajinya yang relative kecil, ia harus mengatur pengeluarannya sedemikian rupa sehemat mungkin agar kebutuhan hidup bersama keluarga tetap bisa tercukupi.
            Maka, sejak saat itu, hidup keluarga pemuda itu terpola dengan sangat hemat, irit, dan tampa keleluasaan sedikitpun untuk bersantai. Si suami sangat ketat mengatur segala sesuatu agar cicilan rumah dapat terlunasi. Tak heran, setiap hari keluarga itu dilingkupi suasana tegang, mudah emosi, karena ketat sekali dalam pengeluaran uang.
            Waktupun terusa berjalan. Pada suatu ketika, ibu permuda tadi menyatakan keinginan kepada anaknya,” Anakku, keinginan ibu sebelum meninggal adalah kita bisa pergi berjalan-jalan ke daerah yang ibu sukai. Ibu mempunyai sedikit tabungan. Apakah kamu punya tabungan untuk menambahkan kekurangannya?”
            “Sabar Bu, jangan sekarang. Bukankah kita harus berhemat, irit, mengatur sedetil mungkin pengeluaran kita agar bisa tetap membayar cicilan rumah?” Jawab si pemuda berkali-kali setiap kali ditanya sang ibu.
            Begitulah, sanking ketatnya mengatur pengeluaran, saat si istri mengajak pergi keluar untuk sekedar bersantai pun, tak pernah digubris pemuda itu. Bahkan hanya sekedar makan keluar ke restoran bersama keluarga pun, selalu dijawabnya dengan jawaban yang itu-itu saja, yakni harus berhemat  untuk membayar cicilan rumah. Alas an ini juga berlaku untuk anaknya. Saat si anak merengek meminta uang jajan atau dibelikan mainan, dengan tegas si pemuda menolak semua keinginan anaknya.
            Istri dan keluarga akhirnya mulai tertekan dan jenuh dengan keadaan seperti itu. Hari-hari pun berlalu dengan stress  dan monoton. Tak ada lagi nuansa kebahagiaan yang menyelimuti keluarga itu.
            Tanpa terasa, 20 tahun kemudian, cicilan rumah telah selesai dan rumah telah sepenuhnya menjadi milik pemuda tadi. Namun, ketika rumah itu benar-benar telah menjadi miliknya, ternyata ia tidak bahagia, bahkan merasa telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga. Saat itu, rumah yang ditempati hanyalah sebentuk bangunan, tanpa ada apa-apa lagi di dalamnya, tanpa kehangatan dan tanpa kebahagiaan. Si pemuda tinggal seorang diri di situ. Istrinya telah pergi meniggalkan dia, dengan hak asuh anak di pihak istrinya. Rupanya, karna tak tahan, mereka akhirnya bercerai. Ibu pemuda itu pun sudah meninggal dunia beberapa tahun silam tanpa pernah terkabulkan permintaan  terakhirnya.
            Kini, hidup terasa hampa, dingin, dan kosong. Laki-laki itu tidak mengerti, kenapa saat tujuan hidupnya yang diagungkan tercapai, yakni ketika sertifikat tumah ada di tangannya, justru cintam kehangatan, dan kebahagiaan pergi menginggalkannya begitu saja.


Pembaca yang berbahagia ,
           
            Kekayaan materi sering kali dipandang sebagai standar kesuksesan. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang kaya materi tidak bahagia kehidupannya, tidak ada cinta dan kehangatan di dalam rumah mewah yang dimilikinya. Sebaliknya banyak pula orang yang tidak berkelimpahan harta tetapi bisa menikmati hidup dengan lebih bagahia bersama dengan seluruh keluarganya.
            Cita-cita menghasilkan kekayaan yang berlimpah adalah sah-sah saja. Namun, apa artinya semua materi yang kita dapatkan, jika kita harus kehilangan kebahagiaan dari orang-orang yang kita cintai seperti cerita tadi?
            Apalagi untuk mengejar semua keinginan itu lahir dari perasaan iri atau tidak mau kalah dengan orang lain, sehingga akan memunculkan pemaksaan di luar kemampuan kita, yang pada akhirnya membuat kita menderita.
            Maka jangan paksakan sesuatu yang tidak pantas dipaksakan, kalau hanya penyesalan dan penderitaan yang akan kita alami.
            Tetap berjuang dan bekerja keras  mewujutkan impian kita! Namun, gunakan cara positif dan pola pikir yang benar dan seimbang, agar hidup bisa lebih bermakna bersama dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai.

Jumat, 16 September 2011

INSPIRASI DARI SI CACAT.

 " Walaupun secara Fisik ada orang yang mungkin tidak sempurna, tetapi karena ia mempunyai mental kemandirian untuk berjuang, harkat dan martabat dirinya sebagai manusia pasti akan terangkat."
  
Di siang hari yang cerah, tampak seorang ibu di depan pintu rumahnya kedatangan seorang pengemis muda. ia tampak berpakaian lusu, berbadan dekil, dan sebelah tangannya cacat. si pemuda berkata sopan," ibu yang baik, bolehkah saya minta sedikit makanan dan minuman, saya kelaparan dari pagi belum makan. tolong beri sedekah makanan pada orang cacat seperti saya, Bu." Dengan senyuman lembut tapi tegas, si ibu menjawab, "Boleh, tapi engkau harus mengerjakan sesuatu sebelum engkau menikmati makanan itu. apakah engkau sanggup?" Si pemuda pun menjawab,"Baiklah, Pekerjaan apa yang harus saya kerjakan ?" segera si ibu menunjuk kearah setumpuk batu bata yang ada di halaman rumahnya," Anak Muda, pindahkan semua batu bata itu ke belakang rumah." Dengan roman muka kaget, si pemuda menjawab." Maaf bu, bagaimana saya dapat memindahkan semua batu itu dengan sebelah tangan saya yang cacat seperti ini?" tanya si pengemis keberatan. " Kalau Engkau ingin makan siang, engkau harus membayar harganya, silahkan kerjakan, atau pergilah dari sini." Mendengar ucapan si ibu, meski dengan menahan lapar yang melilit, si pemuda mulai melakukan pekerjaan yang diminta oleh si ibu. kira-kira satu jam kemudian, dengan keringat bercucuran si pemuda pun akhirnnya dapat menikmati makan siang paling nikmat yang pernah disantapnya. ia juga menerima uang tambahan sebagai imbalan hasil kerja kerasnya. selang beberapa hari kemudian, pengemis makanan itu datang lagi kerumah si ibu. kembali, ia pun disuruh melakukan pekerjaan memindahkan batu bata. namun kali ini ia harus mengembalikan batu bata itu dari belakang ke halaman depan. keluarga si ibu heran dan tidak mengerti, mengapa ibu itu menyuruh si pengemis cacat melakukan pekerjaan memindahkan batu bata kembali ke tempat semula. Si pemuda cacat tanpa bertanya lagi segera bekerja memindahkan batu bata dengan semangat dan menyelesaikannya dalam waktu yang lebih cepat. ia pun kembali mendapatkan upahnya. setelah menyantap makanan yang lezat sambil mengantongi upah, dia mengucapkan terima kasih dan berpamitan pergi. Waktu pun terus berjalan cepat. lima belas tahun kemudian, si ibu kedatangan seorang tamu muda yang mendesak ingin bertemu dengannya. Dengan mata tuannya, ia menatap pemuda berpakaian rapi dan berkesan mahal di hadapannya. Dengan senyum ramah, pemuda menjabat tangan si ibu dan menyapa, "Ibu, masih ingat saya? Pemuda cacat yang puluhan tahun lalu pernah minta makan kemari? Si Ibu menganggukkan kepala dengan senang, "Ya, ibu tentu ingat pada anak muda yang rajin memindahkan batu bata di rumah ini, sekarang engkau sudah berubah apa yang bisa ibu bantu anak muda? " Saya menyempatkan diri kemari ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu. Berkat pelajaran tidak ada makan siang gratis yang ibu berikan kepada saya waktu itu, saya menyadari, ternyata saya mempu bekerja seperti layaknya orang yang bertubuh sempurna. Mulai saat itulah saya bekerja keras dan bertekan untuk membuktikan bahwa tubuh cacat bukan berarti harus menunggu belas kasihan orang lain untuk memberi makan. Dan saya merasa sangat bersyukur, sekarang saya telah berhasil menjadi seorang pengusaha yang sukses." sambil bercerita kisah perjuangan hidupnya, ia mengangsurkan selembar cek kepada si ibu," Bu, terimalah Cek ini sebagai tanda terima kasih saya. Silahkan isi sendiri angkanya. jika ibu berkenan, saya juga telah menyiapkan sebuah rumah peristrahatan untuk ibu memasuki masa pensiun nanti." Dengan mata berkaca-kaca si ibu berkata, " Terima kasih atas perhatian dan niat baikmu anak muda. maaf ibu tidak bisa menerima semua ini. Ibu masih sehat tidak kurang sesuatu apapun. Bisa melihat kamu sukses ibu pun ikut bahagia, yang penting, tularkan semangatmu pada orang lain," ucapan si ibu sambil mengembalikan cek kepada si pemuda. Pembaca yang baik, Sebagain besar dari kita, memang tampak luar memiliki tubuh yang utuh dan sempurna, tetapi sering kali justru memiliki mentalitas yang miskin dan cacat. sebaliknya, tak jarang walaupun secara fisik ada orang yang mungkin tidak sempurna tetapi karena ia mempunya mental kemandirian untuk berjuang harkat dan martabat dirinya sebagai manusia pasti akan terangkat. Tak sedikit dari mereka bahkan menjadi orang yang sukses meski mangalami cacat di tubuhnya. Apapun keadaan kita, setiap manusia mempunyai hak yang sama untuk sukses. Kita di takdirkan lahir dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing semestinya kita belajar dan berusaha untuk bisa mengatasi kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri kita, dan selayaknnya pula kita kembangkan kelebihan atau potensi diri yang kita punya. Dengan semangat juang yang tinggal dan sikap pantang menyerah, kita buktikan mampu menjadi pemenang yang sesungguhnya.